Showing posts with label kabar ekonomi global. Show all posts
Showing posts with label kabar ekonomi global. Show all posts

Thursday, 6 August 2015

harga minyak di dunia mengalami kembali penurunan harga

harga minyak di dunia mengalami kembali penurunan harga bidiwork.blogspot.com

Harga minyak mentah dunia kembali mengalami penurunan karena ketidakpastian yang dialami investor dan pedagang tentang pasar setelah penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang gagal mendongkrak harga.
Harga minyak Brent, patokan minyak dunia, turun tujuh sen menjadi USD49,52 per barel, setelah sempat berada di posisi terendah dalam enam bulan di USD48,88. Sementara itu, minyak mentah AS turun 49 sen lebih rendah pada USD44,66 setelah sempat menyentuh level terendah dalam 4,5 bulan di USD44,20.
"Kita perlu melihat perdagangan kapitulasi, dan kami belum mendapatkan itu. Kami yakin harga minyak dapat di bawah USD40," kata analis dari Caprock Risk Management, Chris Jarvis, di Frederick, Maryland, seperti dilansir Reuters, Jumat (7/8/2015).
Sementara itu, persediaan minyak mentah AS turun 4,4 juta barel pekan lalu, dibandingkan perkiraan untuk penurunan 1,5 juta. Namun, stok bensin mencapai 811.000 barel, atau 300.000 di atas ekspektasi.
"Jika terus pada tingkat ini, maka kita akan melihat besarnya sulingan dan stok bensin saat musim puncak permintaan," kata ahli strategi komoditas senior Saxo Bank Ole Hansen.
sumber: okezone.com

Saturday, 25 July 2015

Pulau Jawa Masih Jadi Magnet Investasi


JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan pulau Jawa masih menjadi magnet bagi investor yang ingin menanamkan modal di Indonesia.
Hal ini tercermin dari jumlah proyek PMDN yang direncanakan akan dilaksanakan di Pulau Jawa sebanyak 2.038 proyek atau 63,5 persen dari total rencana proyek PMDN semester I 2015 yang jumlahnya 3.205 proyek.
Franky menyebutkan rencana nilai investasi untuk Pulau Jawa mencapai Rp87,8 triliun atau 46,4 persen dari total rencana investasi PMDN semester I 2015 yang mencapai Rp189,2 triliun.
“Harus diakui, dengan infrastruktur yang memadai serta jumlah tenaga yang memiliki keterampilan, Pulau Jawa masih menjadi magnet utama bagi para investor, baik asing maupun dalam negeri," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7/2015).
Sekadar informasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMND) semester I 2015 mencapai Rp189,2 Triliun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan semester I 2014 sebesar Rp 161,4 Triliun.
PMDN Semester I 2015 yang dari sisi nilai investasi naik 17,2 persen dibandingkan Semester I 2014. Data BKPM menunjukkan lima sektor terbesar nilai izin prinsip PMDN adalah Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran (Rp52 triliun), Industri Mineral non-logam (Rp18,1 triliun), Industri Kimia Dasar, Barang, Kimia dan Farmasi (Rp15,9 triliun), Industri Makanan (Rp13,2 triliun) dan Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi (Rp13 triliun).
Sementara untuk lokasi, lima provinsi dengan jumlah nilai izin prinsip PMDN terbesar adalah Bali sebesar Rp30 triliun. Kemudian Banten Rp23 triliun, Jawa Barat Rp23 triliun, Sulawesi Tengah Rp21 triliun dan Jawa Timur Rp19 triliun.
(mrt)

Rupiah Anjlok, Masyarakat Berbondong-bondong Gadaikan Dolar AS


JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini dibuka anjlok menembus pelemahan terendah. Rupiah pagi ini mendekati pelemahan terendahnya di Rp13.450.
Pelemahan ini dimanfaatkan aksi para pemilik mata uang Paman Sam tersebut. Pasalnya, tingkat transaksi jual dolar AS hari ini meningkat.
"Tadi pagi setelah Rupiah dibuka melemah RP13.450 tingkat transaksi penjual lebih meningkat dibandingkan hari biasanya. Setelah Lebaran lalu, transaksi hari ini yang paling meningkat untuk transaksi penjualannya."tutur sumber Valuta Remittance kepadaOkezone, Jakarta, Jumat (24/7/2015).
Menurutnya, masyarakat dan khususnya pemain dolar AS mulai mengikuti pergerakan rupiah. Hal tersebut menjadikan tingkat transaksi penjualan meningkat hari ini. Dia menjelaskan, hingga saat ini transaksi beli dolar AS pun masih relatif bisa saja. "Kalau transaksi beli, sampai sekarang masih sepi-sepi saja. Kebanyakan yang jual hari ini," tambah dia.
Siang ini, Bloomberg Dollar Index, mencatat Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) masih melemah 54 poin atau 0,40 persen ke Rp13.474 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp13.320 per USD.
(mrt)

Harga BBM Pertalite yang sebenarnya hanyalah Rp8.700 per Liter


JAKARTA - PT Pertamina (Persero) mengakui, saat ini pihaknya belum mengambil keuntungan dalam penjualan BBM RON 90 Pertalite. Pasalnya, dengan perhitungan yang mengacu dari harga MOPS dan nilai tukar saat ini seharusnya harga Pertalite sebesar Rp8.700. Sementara dalam masa promo Pertalite hanya dibanderol Rp8.400 per liter.
"Kalau dilihat dari MOPS kemarin, memang seharusnya di angka itu (Rp8.700). Apalagi dengan ada tambahan aditif. Tapi ini kan promosi dulu," tutur Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang di Jakarta, Jumat (24/7/2015).
Bambang mengatakan, penjualan Pertalite saat ini masih dalam tahap uji coba. Nantinya sekitar satu atau dua bulan baru Pertamina mulai menerapkan harga Pertalite yang sesungguhnya, dengan mengambil margin keuntungan.
"Ya saat ini kita enggak untung dulu. Tapi belum tentu harganya nanti Rp8.700, karena kalau dolarnya turun, harga pasar juga turun bisa jadi Rp8.400 juga sudah untung. Kalau sekarang mungkin iya harganya seharusnya segitu," imbuhnya.
Seperti diketahui, Pertamina hari ini resmi meluncurkan Pertalite dengan melakukan uji pasar terlebih dahulu. Uji coba tersebut dilakukan serentak di 103 SPBU yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Bandung dan Surabaya.
(mrt)

Kinerja Perusahaan AS Mengecewakan, Wall Street Memerah






















NEW YORK - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah selama tiga hari terakhir. Hal ini setelah hasil kinerja perusahaan yang mengecewakan dan kekhawatiran tentang prospek laba AS.
Mengutip laman reuters, New York, Jumat (24/7/2015), Dow Jones Industrial Average (DJIA) jatuh kembali ke merah untuk tahun ini, dengan saham 3M (MMM.N), American Express (AXP.N) dan Caterpillar (CAT.N) berkontribusi terbesar.
"Kuatnya dolar tentu memberikan arti yang banyak, dan saya pikir ada pertanyaan mengenai permintaan dalam ekonomi dan apa yang akan diartikan untuk pertumbuhan pendapatan dalam laporan perusahaan," ujar strategi teknis utama di Bolton Global Asset Management di Boston, Bruce Zaro.
Saham Caterpillar turun 3,6 persen menjadi USD76,88 dan menyentuh level terendah selama empat tahun. Perusahaan terbesar pembuat peralatan konstruksi dan pertambangan di dunia melaporkan penurunan penjualan di pasar utama karena lesunya ekonomi global.
American Express turun 2,5 persen di USD77,01 setelah pendapatan tidak diharapkan, sementara produsen diversifikasi 3M (MMM.N) turun 3,8 persen pada USD149,50 setelah memotong estimasi setahun penuh.
Dow Jones Industrial Average turun 119,09 poin atau 0,67 persen ke 17.731,95, S & P 500 kehilangan 12 poin atau 0,57 persen ke 2.102,15 dan Nasdaq Composite turun 25,36 poin, atau 0,49 persen ke 5.146,41.
Selama sesi reguler, semua 10 sektor terbesar S & P 500 ditutup lebih rendah dengan sektor utilitas memimpin penurunan dengan 1,5 persen. Begitu juga sektor bahan baku turun sebesar 1,5 persen.
(rzy)

Harga Emas Catatkan Rekor Pelemahan Beruntun

JAKARTA - Harga emas mengalami penurunan secara beruntun dalam 10 hari terakhir. Penurunan tersebut merupakan yang terpanjang sejak 20 tahun dan diperkirakan penurunan masih akan berlanjut.
Harga emas jatuh ke level USD1.080 dan mencapai posisi terendah dalam lima tahun. Harga emas turun 5 persen pada minggu ini, dan merosot 8 persen di tahun ini.
Salah satu trader, Anthony Grisanti, mengatakan bahwa permintaan emas di China turun 9 persen. Sementara itu, di seluruh dunia, permintaan koin emas dan emas batangan turun 17 persen.
"Pedagang tidak dapat pembeli meskipun harga (emas) akan lebih rendah," kata dia dilansir dari CNBC, Jumat (24/7/2015).
Sebelumnya, penurunan pada emas juga pernah terjadi pada Agustus hingga September 1996, bahkan harga emas turun 13 hari berturut-turut.
Pengamat emas menilai, hal ini terjadi karena penguatan yang terjadi pada dolar, sehingga emas menurun. RBC Capital George Gero mengatakan indeks dolar naik 8 persen (year to date), alhasil dolar cenderung naik, dan emas mengalami penurunan.
Inflasi yang rendah dan dolar yang kuat, membuat harga emas akan cenderung stagnan. "Suku bunga AS yang lebih tinggi akan membuat emas tidak menghasilkan apa-apa untuk investor," ujar George.
Namun, analis dari KKM FInance Jeff Kilburg mengatakan penjualan besar-besaran bisa membuat pasar emas kembali bangkit. "Sentimen berubah begitu cepat, tidak ada alasan penjualan akan sulit, saya pikir ini akan kembali, sudah saatnya," kata Jeff.
(rzk)

tantangan berat bagi perekonomian negara saat ini

Menjelang akhir masa jabatannya, Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia Chairul Tanjung memaparkan sejumlah fakta mengenai ekonomi Indonesia dua tahun ke depan. Menurutnya, diperkirakan tahun 2015 hingga 2016 adalah tahun berat bagi perekonomian Indonesia dan negara berkembang pada umumnya. “Kondisi itu sudah bisa diprediksi dari sekarang berdasarkan beberapa indikator diantaranya kembali menguatnya perekonomian Amerika yang berimbas pada berkurangnya likuididitas negara-negara berkembang,” jelas Chairul.




Hal senada juga disampaikan, Ekonom Raden Pardede dalam acara perpisahan dan pembubaran Komite Ekonomi Nasional (KEN). Menurut Raden yang juga merupakan wakil ketua (KEN), pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 masih diprediksi mengalami peningkatan tipis bertumbuh disekitar 5,2 %, dengan asumsi stimulus fiskal dari hasil penghematan subsidi BBM akan efektif pada semester kedua. Sementara itu, inflasi diperkirakan berada di tingkat yang lebih tinggi dibanding tahun ini.
“Hal tersebut dikerenakan imbas dari kenaikan harga BBM dan listrik,” kata Raden. Di lain pihak, menguatnya perekonomian Amerika juga menyebabkan suku bunga di sana naik, sehingga suku bunga acuan BI diperkirakan akan naik sampai 8,5 %. Nilai tukar akan berada di sekitar Rp12.200 – Rp 12.700 per US$.
Pelemahan pertumbuhan ini juga terjadi secara merata di hampir semua negara berkembang, bahkan dialami negara ekonomi besar seperti China, India, Brazil dan Indonesia. “Kondisi ini kelak juga akan membuat permintaan barang dan harga komoditas jadi melemah,” jelas Raden.
Menurut hasil pengamatan KEN, ada beberapa poin yang dicatat sebagai tantangan dan peluang di tahun 2015. Tantangannya terdiri atas tantangan eksternal dan tantangan domestik. Tantangan eksternal, pertama, membaiknya perekonomian Amerika, membuat the Fed mulai mengurangi stimulus moneter yang sudah dilaksanakan sejak awal 2014 ini (tapering off). “Semakin membaiknya perekonomian Amerika akan membuat arus masuk likuiditas yang tadinya melimpah bisa jadi akan berhenti atau malah berbalik arah,” ungkap Raden.
Kondisi tersebut juga dapat memicu penarikan kembali modal asing yang sebagian besar dalam bentuk investasi portofolio dan berpotensi menimbulkan goncangan yang cukup kuat bagi neraca pembayaran Indonesia. Likuiditas dapat mengering, rupiah akan tertekan, pasar saham dan keuangan potensial terkoreksi dan suku bunga pasar akan ikut naik sehingga menimbulkan ketidakpastian pasar dan selanjutnya bila berlangsung lama akan mengoreksi pertumbuhan secara signifikan. Perlambatan ekonomi juga akan mengurangai permintaan komoditas dan kemudian berdampak pada penurunan harga komoditas. Padahal ekspor komoditas menjadi salah satu andalan perekomian Indonesia.
Sedangkan tantangan domestiknya, pertama, pemerintah baru akan membutuhkan banyak dana untuk anggaran pembangunan sementara sumber pembiayaan dari dalam negeri terbatas. Kedua, penyediaan energi yang merupakan persyaratan utama untuk menopang perkembangan ekonomi masih menghadapi banyak hambatan. Ketiga, ketergantungan yang sangat tinggi terhadap penerbitan surat hutang untuk membiayai defisit. Keempat, Indonesia harus meningkatkan daya saingnya untuk bersaing dengan negara lainnya guna mendaptkan investor.
Berdasarkan catatanya tersebut, maka KEN membuat beberapa rekomendasi kebijakan utama bagi pemerintah yang baru. Pertama, segera melakukan pemotongan dan realokasi subsidi energi pada tahun ini (2014) juga. Kedua, pembangunan infrastruktur dan sistem logistik yang efisien. Ketiga, untuk menghadapi defisit transaksi berjalan perlu dikeluarkan kebijakan struktural, memperbesar aliran investasi modal langsung (bukan investasi portofolio) dan efisiensi penggunaan kapital. Keempat, Indonesia tidak harus menaikkan suku bunga ketika Amerika nanti menaikkan suku bunganya. Kelima, kebijakan publik dan struktural untuk mengurangi kemiskinan, mempersempit kesenjangan ekonomi, dan mengurangi pengangguran.
sumber:http://swa.co.id/business-research

kondisi perekonomian indonesia saat ini

indonesia "LESU"



indonesia dilanda krisis ekonomi sejak masa awal pemerintahan jokowi.minggu/26/06/2015

jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyadari bahwa perekonomian Indonesia saat ini tengah memasuki kondisi lesu. Hal tersebut disampaikannya dalam pengantar sidang kabinet soal serapan anggaran tahun 2015. Lebih jauh presiden meminta agar tidak pesimis dengan kondisi saat ini.
"Kita tahu bahwa kondisi ekonomi sekarang ini memang dalam kondisi yang melesu, tapi kita tidak perlu pesimis," kata Jokowi di kantor presiden, Jakarta, Kamis (2/7).
Selain itu, presiden juga sempat menyinggung kembali terkait anggaran untuk Sinabung. Dia meminta agar Kementerian Sosial (Kemsos) mengecek ada tidaknya anggaran untuk kasur dan peralatan dapur bagi pengungsi.
Ketua Umum DPP Persatuan Indonesia (Perindo) Hary Tanoesoedibjo pun mengatakan hal yang sama, bahwa saat ini kondisi perekonomian Indonesia dalam kondisi membahayakan. Bahkan, dirinya menganalogikan kalau kondisinya ibarat orang sakit.
"Ibarat orang yang sedang sakit, Indonesia kini sedang mengalami masa opname," ujar HT dalam acara buka puasa bersama di Kantor DPP Perindo, Jakarta, Sabtu (27/6/2015).
HT mengemukakan bahwa arah perekonomian Indonesia saat ini membahayakan, karena pertumbuhan ekonomi di awal 2015 sudah seperti pertumbuhan ekonomi di tahun 2000-an. Sedangkan kurs dolar seperti tahun 1998-1999.
Akibat dampak tersebut, ia menilai banyak pedagang kecil yang terkena imbasnya. "Banyak pedagang jadi rugi, kaya sekarang ini banyak pedagang yang jualan takjil tapi tidak habis," katanya.
HT pun menyayangkan kalau Indonesia kembali masa krisis dan stagnasi kembali. Terlebih masyarakat kurang mampu di Indonesia masih sangat besar.
"Sayang kalau Indonesia masuk ke masa krisis kembali dan stagnansi karena kondisi masyarakat kalangan bawah masih besar. Bagi masyarakat kelas menengah ke atas mungkin tidak akan terlalu merasakan dampaknya," pungkasnya.